Beranda » NASIONAL » UKI Gelar Diskusi Gaya Komunikasi Jokowi Membangun Budaya Dialogis Dalam Masyarakat Plurais

Senin, 11 Desember 2017 - 20:37:12 WIB
UKI Gelar Diskusi Gaya Komunikasi Jokowi Membangun Budaya Dialogis Dalam Masyarakat Plurais
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: NASIONAL - Dibaca: 351 kali

Jakarta SP Barangkali belum ada yang menyerupai yang digunakan enam Presiden RI sebelumnya. Berbagai gaya komunikasi dipraktikan Jokowi sebagai implementasi diri yang mempunyai modal budaya sendiri yang khas dan unik

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengungkapkan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi adalah pribadi yang tidak pernah berubah, mulai saat menjadi kepala daerah sampai dengan presiden.

Keunikan Jokowi yang membekas adalah kerap memberikan pertanyaan dalam kunjungannya dan membagikan hadiah. Ia tidak ragu untuk melakukan kontak fisik dengan siapapun sehingga menurut Tjahjo tingkah presiden ini sering membuat kewalahan pasukan pengamanan.

Gaya blusukan Jokowi yang memang disukai rakyat kecil, dimana pada umumnya masyarakat sudah muak dengan cara kerja eksekutif yang hanya duduk santai main perintah sana sini.

Jokowi dengan pakaian dinas Korpri turun ke gorong-gorong, menyampaikan pesan nyata kepada khalayak ramai bahwa pejabat tidak harus ongkang-ongkang kaki, pungkasnya.

Lebih lanjut Mendagri mengemukakan, propaganda, periklanan dan retorika merupakan elemen-elemen yang merupakan kunci utama komunikasi persuasi politik yang dilakukan Jokowi untuk membangun opini, menggiring sudut pandang, memengaruhi nilai-nilai kepercayaan dan kepatutan masyarakat.

Tjaho mengatakan itu melalui penelitian yang dilakukan saat masa pemerintahan Jokowi sudah berjalan 3 tahun.Gaya komunikasi Pak Jokowi jelas, blusukan, membuat video kemudian vlogging, ungkapnya

Dalam diskusi Gaya Komunikasi Jokowi: Membangun Budaya Dialogis dalam Masyarakat Pluralis di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta (11/12/2017).

Jokowi memimpin Indonesia ketika kemajuan komunikasi publik sampai pada tingkatan komunikasi antar-individu yang bersifat semakin massal, sehingga tentu saja ia menyadari bagaimana pentingnya menggunakan berbagai saluran media sosial untuk menyampaikan pandangan, kebijakan, dan juga kinerja Kabinet Kerja yang dipimpinnya.

Dalam masa 10 tahun terakhir, perkembangan media sosial dengan berbagai platform terlihat sedemikian dramatis. Tak hanya dari jenis dan apa yang ditampilkannya semakin beragam, namun juga fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sebagai penggunanya.


Komunikasi lebih menunjukkan apakah seorang capres memiliki kecenderungan lebih dekat dengan rakyat atau tidak. Gaya komunikasi berkonteks rendah jauh lebih merakyat karena menggunakanbahasa rakyat yang mudah dipahami. Artinya, capres yang bergaya bahasa konteks rendah sebenarnya lebih mudah dipilih rakyat ketimbang yang berkonteks tinggi. Tapidalam praktik mengapa bisa terjadi sebaliknya ? Bisa jadi karena masih adanya faktor feodalisme.
BERITA TERKAIT

Nasional | Polhukam | Metropolitan | Ekonomi | Teknologi | Pendidikan | Hiburan | Profil | Ragam Berita | Susunan Redaksi
2014 SinarPagi.Net - All rights reserved