Beranda » JABODETABEK » Hakim Anwar Masih Miliki Nurani

Selasa, 11 Juni 2019 - 09:54:16 WIB
Hakim Anwar Masih Miliki Nurani
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: JABODETABEK - Dibaca: 179 kali

Jakarta SP Eks Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan (60), dijatuhi vonis 8 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Kasus ini terkait keputusan investasi blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia yang eksplorasinya berujung gagal.

Keputusan investasi di blok BMG disebut tidak ada due dilligence, analisa risiko serta persetujuan bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina. Karen juga disebut memperkaya diri sendiri atau orang lain yakni ROC Oil Company asal Australia, serta merugikan negara sebesar Rp 568 miliar.

Karen Agustiawan pernah menjabat sebagai Direktur Hulu Pertamina pada tahun 2008 sebelum menjadi Direktur Utama Pertamina pada tahun 2009-2014.

Nasib Karen bisa dibilang mengejutkan, padahal dulu ia sempat masuk ke daftar Most Powerful Women versi Fortune pada 2013. Nama Pertamina pun turut masuk ke daftar bergengsi Fortune Global 500.

Pertamina masuk daftar global itu pada tahun 2014 dan berada di posisi 123. BUMN energi itu menjadi perusahaan pertama asal Indonesia yang masuk dalam daftar bergensi tersebut.

Kala itu, Pertamina juga berhasil mengalahkan PepsiCo (137), Toshiba (145), Google (162), dan Deutsche Bank (163) Fortune Global 500. Itu terjadi ketika Karen memimpin.

Situs resmi ITB mencatat Karen Agustiawan adalah insinyur lulusan jurusan Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1978. Sebelumnya, a pernah bekerja di Mobil Oil Indonesia (1984-1986) dan Halliburton Indonesia (2002-2006).

Karen juga pemimpin wanita pertama di Pertamina. Selain itu, ia sempat menjadi senior visiting fellow di Harvard Kennedy School pada tahun 2015.

Hakim anggota Anwar menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam putusan eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan. Hakim Anwar menyatakan Karen tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi.Hakim ad hoc Anwar menyatakan Karen tidak bersalah dan tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

"Terdakwa Karen Agustiawan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum baik dakwaan primer ataupun subsider," ucap Hakim Anwar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (10/6).

Dalam dakwaan jaksa, Karen dianggap telah melakukan penyalahgunaan wewenang dalam melakukan investasi, seperti tidak melakukan peninjauan atau due diligence. Selain itu tindakan Karen dianggap menyalahi aturan perusahaan atas keputusannya melakukan investasi, sementara dewan komisaris PT Pertamina tidak menyetujui tindakan tersebut.

Dakwaan itu menurut Hakim Anwar tidak bisa dijadikan alasan sebagai pembuktian Karen bersalah. Dalam posisi tersebut, kata Anwar, Karen beserta jajaran direksi lainnya justru memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan. Apalagi, dari fakta persidangan terungkap bahwa Karen beserta jajaran direksi saat itu yakni Frederick Siahaan sebagai Direktur Keuangan dan Manager Merger dan Akuisisi Direktorat Hulu Pertamina terlebih dahulu meminta izin kepada dewan komisaris atas investasi tersebut.

Namun dewan komisaris tidak setuju atas rencana tersebut. Soal perbedaan pendapat dengan komisaris, menurut Anwar juga tidak bisa dijadikan dasar Karen bersalah.

"Karen bersama dengan jajaran direksi menyetujui investasi, terlebih dahulu meminta izin kepada dewan komisaris tanggal 22 April 2009," tukasnya.

Sama halnya jika dalam investasi terjadi kerugian. Menurut Anwar untung rugi merupakan hal lumrah di dunia bisnis. Terlebih lagi menurut Anwar belum ada teknologi yang memastikan cadangan minyak di sektor atau blok tertentu.

Sekalipun pihak terkait telah melakukan kehati-hatian dalam melakukan investasi, Anwar menyebut jika terjadi kerugian tidak secara otomatis dianggap melakukan tindakan korupsi dan melawan hukum.

"Meskipun dalam melaksanakan bisnis dilakukan dengan penuh kehati-hatian akan tetapi tetap saja tidak ada kepastian cadangan minyak, kemungkinan besar akan gagal pasti ada," tandasnya.

Pendapat Hakim Anwar disambut riuh hadirin sidang sembari bersorak dan bertepuk tangan, tanda sepakat atas pendapat itu. Kendati demikian, Karen tetap divonis bersalah.
BERITA TERKAIT

Nasional | Polhukam | Metropolitan | Ekonomi | Teknologi | Pendidikan | Hiburan | Profil | Ragam Berita | Susunan Redaksi
2014 SinarPagi.Net - All rights reserved