Beranda » JABODETABEK » Proyek PT Sarana Jaya Kurang Perhatikan K3

Kamis, 11 Juli 2019 - 10:07:28 WIB
Proyek PT Sarana Jaya Kurang Perhatikan K3
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: JABODETABEK - Dibaca: 291 kali

Jakarta SP Tak hanya kejar target. Rendahnya pengawasan dan kesadaran pekerja konstruksi dalam mengutamakan keamanan, dan keselamatan kerja (K3) turut jadi penyumbang kasus kecelakaan kerja. Beberapa waktu lalu, 14 kasus kecelakaan kerja terjadi dalam kurun waktu tujuh bulan.

Pemerintah pun mengambil sikap tegas dengan menghentikan sementara proyek konstruksi yang memiliki struktur layang. Sekretaris Umum BPD Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI) Erwin Princen Sihite mengatakan, dalam sejumlah proyek konstruksi yang digarap perusahaan pelat merah sering kali didapati pekerja yang mengabaikan keselamatan. "Semua yang kemarin mengalami kecelakaan kerja itu semua sudah memiliki sertifikat K3 yang dikeluarkan Kementerian Tenaga Kerja.

Semestinya ketika mereka mengajukan sertifikat K3 tadi, mereka sudah diaudit tentang SOP, keselamatan, dan keamanan kerja," kata Erwin di Jakarta, Rabu (9/7/2019).

Meski memiliki wewenang yang sama, namun langkah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta mengevaluasi proyek konstruksi yang tengah digarap di Jakarta, dinilai tidak tepat.

mengatakan, proyek-proyek itu tidak memenuhi standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan.


Indikatornya, pertama, dilihat dari kewajiban melapor. Pasal 2 disebutkan setiap pekerjaan konstruksi bangunan yang akan dilakukan, wajib dilaporkan kepada direktur atau pejabat yang ditunjuknya, dalam hal ini Disnaker. Kedua, banyak proyek yang tidak memenuhi struktur K3. Kemudian, banyak proyek yang pada saat diperiksa, tidak mempunyai standar operasional prosedur (SOP) masing-masing fungsi kerja. Keempat, obyek keselamatn kerja juga rata-rata banyak yang tidak memenuhi persyaratan. Sumber daya manusia kebanyakan tidak terampil, hanya punya lisensi tapi pengetahuan tidak cukup.

Pengabaian itu, misalnya, enggan menggunakan tali keamanan ketika naik ke lantai dua konstruksi. Alasannya, para pekerja ingin agar mereka dapat lebih cepat sampai di lokasi tempat kerja. Sebab, ketika mereka harus menggunakan tali keamanan, maka butuh waktu lebih lama untuk memasangnya.

.Instruksi keselamatan kerja,, sebenarnya sudah sering disampaikan pengawas K3 kepada setiap pekerja, sebelum memulai pekerjaan pada pagi hari. Demikian halnya savety talk atau janji untuk mematuhi prosedur keamanan dan keselamatan kerja. Namun, jumlah pengawas yang terbatas, tidak sebanding dengan jumlah pekerja yang diawasi. Akibatnya, pengawasan pun menjadi lemah.

BERITA TERKAIT

Nasional | Polhukam | Metropolitan | Ekonomi | Teknologi | Pendidikan | Hiburan | Profil | Ragam Berita | Susunan Redaksi
2014 SinarPagi.Net - All rights reserved